Lukisan Kulit Kayu Kombouw Sentani Berpotensi Susul Noken
“Bisa saja, sepanjang ada orang yang mendalami maknanya. Misalnya khas dan nilai yang tak tergantikan yang terkandung dalam lukisan kulit kayu dan itutidak ada di tempat lain. Lukisan kulit kayu kan adalah perpaudan kreasi alam dengan menusia. Tapi memang tetapi harus dikaji lebih dalam. Karena lukisan yang ada di kulit kayu seperti binatang atau gambar lainnya menggambarkan kondisi alam. Jadi saya menilai lukisan kulit kayu juga punya potensi untuk mengikuti jejak noken,” kata Titus Pekei, Selasa (18/12).
Menurutnya, selain lukisan kulit kayu, masih banyak warisan budaya lainnya dari Papua yang bisa didorong untuk mendapat pengakuan UNESCO seperti patung Asmat atau tarian Yospan.
“Kedepan harus diidentifikasi lagi apa saja yang bisa direkomendasikan dari Papua. Banyak langkah yang bisa kita tempuh untuk mencari pengakuan budaya Papua. Meski itu tidak mudah. Untuk noken sendiri sejak 2008 lalu saya sudah mulai menyusun kerangka berpikir mengenai ketika beberapa budaya Indonesia seperti batik dan keris masuk UNESCO. Saya memikirkan bagaimana kalau noken digagas ke UNESCO. Lalu saya sampaikan ini ke beberapa pihak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu kendala yang ditemui saat memperjuangkan noken Papua menjadi warisan budaya duni adalah adalah membangun pemahaman bahwa noken adalah budaya yang sudah diyakini masyarakat Papua. Selain itu untuk membawanya ke dunia internasional harus malalui beberapa syarat termasuk uji kelayakan.
“Namun pada akhirnya saya bangga karena noken sudah bisa diakui dunia dan orang lain seperti bisa mengerti dan memahi noken itu apa. Semoga kedepannya noken dari setiap suku digali dan diselamatkan oleh suku itu sendiri. Dalami dan kenalilah identitas budayamu, jangan mengatas namakan budaya orang lain, karena noken dihasilkan mama Papua lewat imajinasi dan perasaan. Ada banyak nilai yang terkadung dalam noken. Nilai budaya, sosial, kehidupan serta beberapa hal lainnya,” ujarnya.
Ia mencontohkan dimasa lalu, beberapa daerah di Papua setiap noken yang digunakan seseorang memiliki makna tertentu dan mengambarkan identitas diri orang tersebut. “Dahulu di Sentani ada noken yang memiliki empat manik-manik dan orang yang makai itu artinya, orang yang derajatnya di atas. Noken dari anggrek di Paniai sama halnya.Orang yang menggunakan itu dijaman dulu hanya orang berada atau tingkat ekonomi dan martabatnya di atas,” jelasnya.
Untuk itu lanjut dia, semua orang yang ada di Papua harus mengenali kembali nilai yang terkandung di dalam noken. Apalgi sekarang di Papua sudah jarang orang menggunakan noken, sehingga lambat laun mereka tidak akan mengenal lagi nilai-nilai budaya yang menjinakkan manusia Papua.
“Noken semestinya kembali menyadarkan manusia Papua apa yang menjadi hak mereka dan mana yang bukan. Harapan dan target saya, saya akan kampanyekan noken di mana setiap kali pelantikan gubernur/bupati/wali kota maka kepala sukunya harus membawa noken suku atau daerah masing-masing. Misalnya dari Sentani maka harus membawa noken khas Sentani. Ini bukan membedakan atau membuat jarak tapi menjiwai tugas dan tanggung jawab. Itulah alasannya kenapa Noken diterima UNESCO karena noken punya nilai-nilai yang cukup tinggi serta sejarah yang panjang. Noken tidak bisa digantikan dengan noken lain. Pemda juga harus kembali mengenai semua wasian budaya yang ada di Papua. Cukup banyak sebenarnya hanya kita yang sering malas tahu,” tutup Titus Pekei. (Jubi)
Terkait pemerintahan dan pengelolaan administrasi kedaerahan di Kota Jayapura...
Segala hal yang berkaitan dengan tradisi dan kebudayaan di Kota Jayapura...
Terkait Tata Cara dan Kehidupan Sosial masyarakat lokal di Kota Jayapura...
Seputar upaya pengembangan dan perkembangan Pendidikan di Kota Jayapura...
Terkait pengembangan Ekonomi dan pengelolaan Bisnis di Kota Jayapura...
Terkait upaya-upaya pengembangan dan pemberdayaan Sumber Daya Alam di Kota Jayapura...
Website ini dikelola oleh lelemuku.com





